link menu

Rabu, 20 Juni 2012

Etalase Rasa


Dari panca indra hingga ke jiwa. Keberadaanmu sungguh membuatku semakin terpesona, padahal tak kau hunus pedang untuk membunuhku sedemikian rupa. Hingga gila dan tak tahu harus apa. Itulah cinta.

(Catatan ini kupersembahkan untuk bulan yang penuh Cinta, hehe;)
Rasa adalah warna, dimana engkau tak akan pernah menemukannya di organ tubuhmu yang lain selain di jiwa. Jika kau sebut rasa bersemayam di dalam hati, itu hanya seoonggok daging yang menjadi semacam etalase yang menyimpan berbagai warna yang kau rasakan.

Hati yang tersembunyi, dari mereka yang ingin menyelami. Aku sebut hati itu adalah lemari atau semacam etalase. Karena ia mempunyai kunci, dan gudang berbagai macam rasa yang kau terima lewat panca indra. Bayangkanlah sebuah lemari, terdapat sekat-sekat sebagai pemisah dan pengklasifikasian apa pun yang kau simpan. Jika kutanya kenapa engkau begitu ingin melempari sahabatmu dengan batu, kau pasti akan menjawab “Karena aku membencinya”. Jika aku bertanya kenapa engkau begitu ingin menikahi kekasihmu detik ini, kau pasti menjawab “Karena aku mencintainya”. Itulah sekat, atau pemisah antara rasa yang satu dengan rasa yang lain, yang kesemuanya terkadang begitu dekat hingga engkau pun susah membedakan rasa dari laci manakah yang kau ekspresikan hari ini. Timbullah istilah “Benci jadi cinta”, atau sebaliknya.

Jika kita cerna lewat logika, hati merupakan salah satu organ ekskresi atau organ pencernaan. Fungsinya adalah menimbun dan menyaring racun. Bisa kau bayangkan? Hati adalah tempat timbunan racun, tetapi ia juga berfungsi untuk menyaring racun. Bagaimana hal itu bisa terjadi, kau kajilah sendiri melalui ilmu Biologi, itulah salah satu kebesaran Tuhan yang tak mampu kau cipta.

Berhubung fungsi hati yang seperti itu, sepertinya antara rasa dan racun saling berkaitan. Pikirkanlah sendiri, kenapa ada istilah bahwa “Hati tak pernah bisa berbohong”, atau “Kecantikan seseorang terpancar dari kebaikan hatinya”, atau “Keburukan seseorang bersumber dari hatinya yang bernoda”. Itulah hati. Etalase yang mampu menyimpan racun dan madu dalam satu ruang. Racun itu senantiasa memasuki lemari di dalam tubuhmu, tetapi jika kau mampu untuk menyaringnya, percayalah, ia tak akan mampu berkembang biak selagi engkau masih menyimpan penyaringan itu. Sesuatu yang kau pegang, dan Tuhanmu berikan entah di laci sebelah mana Ia simpan.

Etalase Rasa, Antara Cinta, Sayang, Suka, dan Kagum

Cinta, adalah sebuah rasa ketika seseorang mencintai sesuatu, ia ingin memilikinya. Memberikan yang terbaik untuknya, dan berusaha untuk selalu tampil lebih baik dihadapannya dalam rangka merebut hati si dia.

Sayang, adalah sebuah rasa ketika seseorang menginginkan sesuatu yang terbaik untuk orang yang ia sayangi, tetapi tidak berambisi untuk memilikinya.

Suka, adalah sebuah rasa yang bersifat hanya ‘sebatas’, yaitu dimana engkau menyukai sesuatu karena menyenanginya dan dapat bersifat sementara.

Kagum, adalah sebuah rasa ketika seseorang menyenangi lawan jenisnya karena suatu kelebihan yang ia miliki, jika kelebihan itu sirna, maka sirna pulalah kekagumannya, atau lebih parah dari itu mungkin terjadinya suatu kebencian atau kekecewaan.

Seorang yang buta, sambil mengetokkan tongkatnya ke tanah dan dengan menangis dia berkata: “Cinta adalah kabut yang tebal, yang menyelimuti jiwa pada semua sisinya dan menyelubungi gambaran keberadan dirinya – atau yang membuatnya hanya melihat hantu dari nafsunya yang berkelana di antara batu karang, tuli terhadap suara-suara dan tangisnya sendiri yang menggema di lembah-lembah.” (Kahlil Gibran)
Mau Lanjut Baca ^__^

Selasa, 19 Juni 2012

Kebenaran

       Kebenaran, adalah sesuatu yang amat dicari di negeri yang sudah limbung ini. Seringkali tuntutan demi tuntutan kita lontarkan demi mencapai sebuah kebenaran. Namun, apakah selama ini kita paham betul apa yang dimaksud dengan kebenaran?
       Terkadang sebuah kebenaran akan sah dan berlaku jika hal itu berguna bagi kepentingan dirinya sendiri. Dalam hal ini, kebenaran seringkali sangat relatif dan subjektif. Sudut pandang orang yang melihat adalah factor utama terjadinya pandangan-pandangan yang berbeda mengenai sebuah kebenaran. Benar menurut si A, belum tentu benar menurut si B, dan benar menurut si B, belum tentu benar menurut si C dan A. Ada juga yang dapat memposisikan dirinya sebagai orang yang dapat memandang dari berbagai sudut, namun hal ini terkadang membuat kita seolah menjadi orang yang bijak namun sebenarnya tidak mempunyai pegangan. Kebenaran menurut siapa dan kebenaran yang bagaimana yang anda cari?

Lalu, apakah sebenarnya kebenaran itu?

Pengertian Kebenaran
1. Kebenaran Manusia (relatif)
       Kebenaran manusia mencakup kebenaran subjektif dan kebenaran relative, yaitu sebuah kebenaran yang dihasilkan dari buah pemikiran dan kesepakatan manusia terhadap suatu objek yang ia lihat. Misalnya, kita ambil contoh melalui 15 orang yang harus mendefinisikan sebuah bentuk rumah yang ada dihadapannya dengan posisi orang-orang tersebut adalah berbeda. Misal, 5 orang melihat rumah dari depan, lima orang melihat rumah dari samping kiri, dan lima orang melihat rumah dari belakang. Apa yang akan didefinisikan dari 15 orang tersebut mengenai sebuah rumah yang mereka lihat? Yang jelas, akan ada tiga pendapat yang berbeda meskipun objek yang mereka lihat adalah sama, yaitu sebuah rumah. Misalnya, 5 orang yang melihat rumah dari depan berpendapat bahwa bentuk rumah itu adalah persegi panjang, sedangkan 5 orang yang melihat dari samping kiri berpendapat bahwa rumah yang mereka lihat berbentuk limas, dan 5 orang yang melihat dari belakang sepakat bahwa rumah itu berbentuk segitiga. Apa yang terjadi jika kelima belas orang tersebut disatukan dan diminta menjelaskan apa yang mereka lihat? Bentuk rumah persegi panjang akan menjadi benar dan hanya akan berlaku pada kelompok orang yang memandang rumah dari depan, dan akan menjadi salah menurut kelompok orang yang memandang rumah dari sudut samping dan belakang, begitu pun sebaliknya.

       Namun, dalam hal ini, ada sebuah definisi kebenaran yang dapat disimpulkan, yaitu, bahwa kebenaran manusia merupakan kebenaran yang berdasarkan pada sebuah kesepakatan, dalam artian, hal ini bersifat relatif dan bisa berubah-ubah.

2. Kebenaran Tuhan (mutlak)
      Adalah kebenaran yang keputusannya tidak bisa diganggu gugat karena datangnya dari Tuhan. Kita ambil contoh misalnya perintah menutup aurat bagi setiap umat islam, salah satunya perintah memakai jilbab untuk perempuan muslim. Karena hal ini datangnya dari Tuhan, maka bersifat mutlak. Jika melanggar, sudah mutlak akan mendapatkan hukuman baik di dunia dan akhirat, meskipun seisi bumi mengatakan tidak berjilabb itu benar namun ketetapan tuhan tetap mutlak berlaku bahwa hal itu adalah salah dan mendapatkan hukuman.

      Di zaman kini, suara mayoritas dan tradisi mayoritas selalu dijadikan acuan/ patokan kebenaran. Pilihan mayoritas terbanyak selalu dianggap sebagai keputusan yang harus diikuti, meski bertentangan dengan Al Qur’an dan Sunnah Rosululloh Shalallahu ‘Alaihi Wasalam.

Alloh Jalla wa ‘Alaa berfirman :
“Dan jika kamu menuruti mayoritas orang-orang yang ada di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Alloh. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Alloh Subhanahu wa Ta’ala )”. (QS. Al An’aam: 116).

Allah juga berfirman :

“Tetapi mayoritas manusia tidak mengetahui”. (QS. Al A’raaf: 187).

“Dan Kami tidak mendapati mayoritas mereka memenuhi janji. Sesungguhnya Kami mendapati mayoritas mereka orang-orang yang fasik”. (QS. Al A’raaf: 102).




“Suatu ketika, aku sempat termenung melihat dunia yang limbung, dan kawan-kawan yang lebih memilih tidur daripada terbangun.”


Mau Lanjut Baca ^__^